Rabu, 14 Oktober 2015

APAKAH INI SAAT UNTUK MENGIKHLASKAN

Ah sayang, tau kah kamu perasaanku ketika melihat foto itu??? Entah kenapa meskipun sudah berulang kali kamu menjelaskan dan aku coba untuk menerimanya, rasanya tetap saja tak mengenakkan. Jika itu memang yang terbaik aku akan menerimanya, mungkin ini saatnya kita berfikir ulang tentang semuanya.
Aku tak akan menyalahkanmu ketika rasa sakit ini menjalari hatiku perlahan, karena ini memang pilihanku. Ketika rasa sakit itu datang cukup aku saja yang tau, tak perlu kamu ikut merasakan kesakitanku. 
Mungkin ini juga saatnya aku mulai belajar tidak bergantung lagi padamu, karena semakin lama aku mencoba bertahan akan semakin sakit pula hati ini. Mungkin ini caramu menyadarkanku agar aku lebih bisa bersikap dewasa menanggapi semuanya.
Aku sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi dengan perasaan ini. Rasanya aku sudah mulai lelah dengan semua yang terjadi pada kita. Mungkin ini saatnya aku untuk mengikhlaskan. Aku bukan ingin menyerah sayang, namun ini tak mudah untuk aku jelaskan. 
Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk semua ini. Aku tak bisa lagi. Entah mengapa aku merasa kamu pun juga sudah tak mampu lagi untuk mempertahankan ini semua. Mungkin ini jawaban dari doa kita kepada Tuhan. Bahwa kita harus mencoba mengikhlaskan, melepaskan. Rasanya memang mungkin menyakitkan tapi ini adalah garis Tuhan yang harus kita terima dan pahami. Bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita.
Aku akan menyerahkan ini semua kepada Tuhan, aku akan mengikhlaskan mu jika ini yang terbaik untuk semuanya, jika suatu saat kita dipertemukan dalam suasana yang berbeda aku harap Tuhan lebih berpihak kepada kita meskipun semuanya tak lagi sama.
(September_rain

PAGAMADYA.....

Entahlah mana yang harus dipercaya. Bahkan orang terdekatpun aku mulai tak percaya. Saat ini semua terasa asing. Seseorang yang terlihat seperti kawan pun, ternyata bisa menjadi lawan. Semua orang seperti ingin membela dirinya sendiri, tak ada lagi kepedulian dengan orang lain. Dan saat itu baru aku yakin semua benar adanya. Apa yang kita lakukan ternyata tak ada artinya bagi MEREKA. Aku sudah berusaha untuk memendam semuanya namun semuanya masih terasa menyakitkan. Tatkala kami berjuang dari titik nol tak dianggap apapun, bahkan untuk disapa. Apa salah kami?? atau mungkin ini hanya perasaanku saja??
Mungkin sudah saatnya aku melepas, ikhlas dengan semuanya. Ini bukan hakku lagi, bukan tanggung jawabku lagi. Tapi salahkah aku jika aku tak ingin semua yang telah kami perjuangkan lebih buruk dari sebelumnya??. Kami yang membangun semua ini, kami yang menata semua ini. Bukan menyoal tentang HAK siapa sekarang ini. Namun diluar semua itu, Jiwa kami, rasa kami, sudah menyatu disini.
Apakah salah jika kami merasa kecewa??!!
Apakah salah jika kami marah??!!
Apakah salah jika kami ingin terus berjuang bersama??!!
PAGAMADYA bukan organisasi biasa bagi kami, rasa cinta kami, rasa sayang kami, rasa kekeluargaan kami, loyalitas kami, rasa pantang menyerah kami, rasa peduli kami terhadap sesama tebentuk disini. Ini rumah kedua kami, ini keluarga kami, ini saudara kami.
Jadi salahkah kami jika kami merasa kehilangan setelah kepengurusan ini ??
Taukah kalian semua yang berusaha melemahkan tekad kami??
PAGAMADYA adalah hidup kami. Nama ini tidak muncul semata-mata karena tuntutan administrasi. Ini adalah gambaran jiwa kami....
Parama Ganedra Mahija Sandya. 
Apa kalian mengerti arti semua ini?? 
Susah senang tawa canda suka dan duka sudah sering kami lalui, berbagi dalam segala hal itulah kami. Karena kami bukanlah sekedar organisasi, karena kami adalah SAUDARA dan KELUARGA.