Ketika amanah itu harus aku sampaikan langsung padamu, aku berfikir mampukah aku berbicara dalam keadaan seperti ini ???
Dengan berat hati aku langkahkan kaki ini, enggan rasanya menuju tempat itu. Dimana dulu saat pertama kita membangun janji setia.
Sepanjang perjalanan, sesak rasanya dada ini tak sanggup untuk mengambil nafas panjang.
Tiba disana, berat rasanya tangan ini memencet tuts demi tuts deretan huruf itu. Dan tak lama kemudian kamu muncul dibelakangku.
Melihatmu, sebenarnya ada sedikit ketenangan dalam batin ini. Alunan sapa dan kataku lancar di depanmu. Tak ada satupun cacat dr ucapanku.
Perasaan itu datang kembali, menjelang detik2 akhir penyampaian amanahku. Ingin rasanya kuluapkan segala beban yang ada di hati ini. Aku ingin bercerita apa yang terjadi padaku hari ini, ingin meluapkan segala rasa yang aku pendam selama ini. Namun mulut ini tak mau diajak kompromi, hati ini pun enggan,,,
Hati ini bicara tak mau membebanimu lagi, ya aku turuti saja kemauan hati ini....
Tiba saat aku berpamitan, tak ada lagi cium tangan seperti biasanya. Ah, semua ini terasa janggal.
Dalam perjalanan pulangku aku semakin tak bisa menata hati ini. Mata ini semakin panas, tiba2 pandangan mata ini buram oleh lelehan air mata yang tak mau berhenti mengalir. Menyesali semuanya, kenapa aku tak berterus terang kepadamu,,,
Untunglah ada hujan, hujan menyamarkan semua sehingga semua orang tak perlu tau apa yang terjadi padaku.